Aku, Maret dan COVID-19

February 20, 2021

Situasi pandemi COVID-19 membuat setiap orang merasakan pengalaman saat Pandemi COVID-19 yang memiliki cerita masing-masing. Begitupun dengan diriku yang mengalami awal masa pandemi di Bogor.

Seperti yang kita tahu bersama bahwa kasus COVID-19 pertama di Indonesia menyeruak pada awal Maret 2020. Bulan Maret juga menjadi pengalaman berkesan dengan terjadinya salah satu momen terindah buatku. Tentu saja ada hal yang tak terelakkan karena efek pandemi. Hal inilah yang membuatnya menjadi topik tulisanku kali ini. Meskipun bulan-bulan setelahnya hingga sekarang tak kalah peliknya karena sibuk bertahan di setiap situasi.

Ah.. sebelum lanjut kenalkan yang di foto itu Neo, salah satu boneka kesayangku, boneka karakter Kakao Talk yang menemaniku saat pulang ke Makassar di bulan Maret 2020. Tatapannya menggambarkan diriku saat itu.   

Lockdown Local di IPB

Masih jelas ingatanku saat itu. Bermula saat saya baru merayakan salah satu momen dimana saya baru saja diwisuda pada 11 Maret 2020 (Bisa dibaca di YEAY, AKU DIWISUDA PART 3 ~ WISUDA ~).  Belum genap seminggu setelahnya, IPB mengumumkan akan menerapkan Partially Lockdown Lokal sampai batas waktu yang tidak ditentukan yang membatasi kegiatan selama di kampus termasuk perkuliahan dan pelayanan akademik. Untuk itu bagi wisudawan bisa mengambil ijazah hari itu juga dimana pelayanannya dibuka hingga jam 8 khusus di hari itu karena belum diketahui kapan IPB akan dibuka kembali. Normalnya pelayanannya sih hanya sampai jam 4 sore.

Saya membaca pengumumannya saat perjalanan mengantar keluarga yang datang ke wisudaku menuju bandara untuk pulang kembali ke Makassar. Buru-buru saya kembali ke kostan setelah mengantar keluarga untuk mengambil baju dan topi toga sebagai syarat pengambilan ijazah dan transkrip nilai. Hari itu menjadi hari terakhir kali saya menginjakkan kaki. Sesekali masih merindu dan ingin rasanya kembali kesana suatu hari nanti.

Kaget? Iyalah. Bogor dan Jakarta saja belum melakukan pembatasan sosial tapi ini... Ternyata oh ternyata, ada salah seorang mahasiswa IPB saat itu yang sudah dikonfirmasi COVID-19 dan sedang menjalani karantina mandiri.

Pulang!

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya merencanakan untuk segera pulang namun baru akan memesan tiket sehari sebelumnya.

Saya beberapa kali harus keluar kostan itu pun sudah diminimalizir untuk mengurus kepulangan ke Makassar dan jalanan sepi banget sekitar dramaga. Jarang banget bisa lihat Dramaga sepi yang biasanya cuma pas hari raya idul fitri dimana kebanyakan mahasiswa dan orang sekitar pulang ke kampung masing-masing. Supir angkot yang saya tumpangi sempat ngeluh karena sepinya penumpang karena COVID-19 yang berdampak dengan beberapa supir angkot yang gak beroperasi. Hand sanitizer dan masker juga mulai gak dijual karena stoknya sudah habis, kalau pun ada harganya bakal melonjak.

Sehari sebelum saya merencanakan kepulangan, salah seorang kawan menelpon dan menanyakan kepulanganku apakah harus saat itu juga karena bisa saja saya yang membawa dan menyebarkan virus COVID-19. Mataku sampai panas memikirkannya hingga meneteskan air mata. Agak melo memang tapi itu tidak berlangsung lama.

Tak berapa lama, giliran saudara sepupuku yang menelpon. Dia sarjana kedokteran yang saat itu lagi koas. Pembicaraanya kami lebih ke sebuah wejangan dan kiat-kiat agar saya bisa pulang ke Makassar. Mulai dari pakai masker, rajin cuci tangan, dan setelah sampai rumah harus isolasi mandiri. Setelah itu barulah diriku lega dan akhirnya memantapkan diri untuk saat itu juga langsung memesan tiket pesawat Jakarta - Makassar penerbangan besoknya.

Keluarga di rumah jangan ditanya lagi, seperti minum obat yang rutin setiap hari menanyakan kapan pulang. 

Tibalah dimana hari saya harus segera pulang ke Makassar secara permanen tanpa perlu bolak balik lagi Makassar - Jakarta - Bogor. Padahal sebenarnya masih banyak rencana yang ingin saya lakukan sebelum pulang ke Makassar termasuk ingin mencoba bekerja mencari pekerjaan disana. Namun apa dikata, orang tua sudah mengatakan untuk segera pulang dan itu yang menjadikannya hal yang sangat urgent lebih dari apapun. Iuran kostanku juga berakhir pada hari bukan Maret. Segala urusan dengan kampus pun sudah diselesaikan termasuk mengambil ijazah dan transkrip nilai. Selagi Bogor dan Jakarta juga belum menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sehingga perjalanan masih bisa dilakukan tanpa adanya pelarangan atau pembatasan dengan menyertakan rapid test ataupun swab.

Semua perjalananku menjadi warga domisili Bogor berhenti di hari itu Senin, 23 Maret 2020. Tak ada tangisan. Padahal dulu saat menyelesaikan Bahkan saat KKN saya meneteskan air mata. Hanya saja, saya terlalu tenang saat ittu sambil memikirkan betapa t menyangka diriku akan pulang saat itu juga ke rumah dikarenakan COVID-19. Berharap suatu saat nanti ada rejeki untuk kembali ke Bogor dan maen ke Jakarta.

Saya memulai perjalanan hari itu menggunakan ojol menuju terminal bus damri Barangsiang. Saat itu penumpang bus damri hanya sedikit jadi dengan kesadaran masing-masing duduk dengan jarak satu barisan kursi. Kalo di pesawat mah gak usah ditanya pasti gak ada jaga jarak, mana penumpangnya full lagi. Saya perhatikan masih banyak yang belum pake masker saat itu. Mungkin karena saat itu masker masih menjadi himbauan, belum menjadi protokol kesehatan yang wajib diikuti.

Kepulangan yang mendadak ini membuat diriku harus membawa begitu banyak barang sampe harus membayar kelebihan bagasi 5 kg senilai 275 ribu. Itupun masih menenteng disana sini. Belum lagi saya juga mengirim barang melalui kargo seberat 82 kilo dengan 656 ribu yang bisa kalian lihat di PENGALAMAN KIRIM BARANG DENGAN YUN KARGO. Ya gimana, tahulah barang perempuan kayak apa, apalagi sudah hampir 3 tahun saya disana.

Hari telah berganti saat saya telah tiba di Makassar. Ayah sudah menjemputku di pintu kedatangan bandara dan langsung menyambutku dengan sekantong pakaian ganti, masker dan hand sanitizer. Setelah berganti pakaian di toilet bandara, saya dan kembali bersama ayah dan menuju ke parkiran. Ayah sudah menyambutku dengan semprotan desinfektan yang ternyata sudah disiapkan dari rumah dan menyemprotkan ke saya dari kepala hingga ujung kaki dan juga barang-barangku, tak lupa Ayah juga menyemprotkan ke tangan dan badannya lalu kami naik ke mobil. Saya mengamati sekeliling yang selalu saja ada perubahan tiap pulang ke Makassar sembari mobil melaju menuju ke rumah. Tak lupa diiringi lagu Berhenti Berharap dari Sheila on 7 yang bermain dalam pikiranku sejak meniggalkan kostanku. Lirik "Aku pulang..." terasa sangat pas untuk momen saat itu.

Karena COVID-19...

Banyak hal yang berubah semenjak COVID-19, tidak hanya mengubah tatanan kehidupan bermasyarakat namun juga rencana-rencana yang telah saya buat.

Mulai dari masker menjadi hal wajib dikenakan saat keluar rumah. Banyak tempat umum mulai dari toko, kantor, yang menyediakan sarana mencuci tangan hingga mengecek suhu tubuh pengunjungnya.

Hal lain adalah semuanya jadi serba online. Mulai dari sekolah online, kuliah online, wisuda online, dan tentu saja belanja online yang makin di up. Padahal dulu tuh banyak banget pro kontra mengenai sekolah maupun kuliah online, tapi sekarang yah mau gak mau harus online. Surat dan berkas yang serba elektronik pun ada yang menyesuaikan hal-hal yang serba online. Kalo dunia kerja lain lagi namanya. Work from Home (WFH) yaitu kerja yang dilakukan dari rumah. Yah, meskipun gak semua kantor atau perusahaan menerapkan WFH.

Dan masih banyak lagi yang bisa terdampak oleh COVID-19 yang mungkin tidak saya tuliskan disini. Segala sesuatu yang berubah karena situasi pandemi COVID-19 punya sisi baik dan sisi buruk. Jika kalian mengambil sisi baiknya maka itu sangat bagus dan sisi buruknya bisa menjadi bahan refleksi ke depannya.

Vaksin COVID-19

Akhir 2020 telah diberitakan bahwa vaksin COVID-19 telah ditemukan dan pemerintah telah menetapkan menggunakan vaksin COVID-19 yang mana dan mengumumkan melakukan vaksinasi serentak yang dimulai 14 Januari 2021.

Vaksin ini digunakan meningkatkatkan kekebalan tubuh kita terhadap virus COVID-19. Saya sebagai orang awam sih menyerahkan sepenuhnya kepada ahlinya untuk masalah vaksin. Apalagi vaksinnya bakal digunakan seluruh Indonesia dimana pemerintah punya Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan serta lembaga resmi terkait yang memang sudah menjadi tugasnya untuk memverifikasi dan menguji vaksin, layak gak untuk digunakan untuk kita semua.

(credit: galigo.id)

Satu lagi nih yang penting, tahu gak kalo banyak banget hoaks dimana-mana mengenai vaksin COVID-19? Kebayang gak sih kalian menjadi salah satu penyebar hoaks dan itu bisa berdampak buruh untuk orang lain yang yang membacanya. Aduh.. jangan sampai. Ayo deh, coba cek informasi yang beredar apalagi sebelum kalian membagikan di sosial media kalian. Jangan mudah percaya dengan hal-hal yang gak jelas infonya, cek dulu kebenarannya. Ini sebenarnya gak cuma berlaku untuk berita hoaks mengenai COVID-19 dan vaksinnya tapi juga untuk semua berita yang kalian baca yah! 

Kapan pandemi COVID-19 berakhir?

Banyak pertanyaan dan harapan mengenai berakhirnya pandemi ini. Begitu banyak spekulasi mengenai hal ini mulai dari pertengahan tahun ini, akhir tahun ini bahkan hingga tahun depan. Wallaualam, gak ada yang tahu. Mari kita berusaha sebaik mungkin. 

Jadi, jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan diri, keluarga dan orang terdekat serta patuhi protokol kesehatan.

Perhatian!

Pertama, tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021

Kedua, berhubung tulisan ini diikutkan lomba saya ingin memberitahukan bahwa karena saya kadang terlalu fokus berpikir namun tidak diimbangi dengan kecepatan jari dan keyboard laptop yang lagi sakit membuat sering terjadinya typo. Itu pun sudah saya coba perbaiki. Jika kalian masih menemukan typo, semoga kalian yang membacanya dapat mengerti maksudnya.

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah mengunjungi aindhae.com. Silahkan komentar dengan bijak. No spam please!
Link error? Tell me please.

PART OF